home
profile
product & activities
news & events
collection
links
sitemap
Contact us. Drop us a line anytime, we'll be with you soon.
Read our blog. See what we are up to from time to time
Share your views. Join our cool forum community


product
projects
product & activities / projects
Benteng di Indonesia Timur:
Dari Rempah-Rempah Sampai Ke Perang Pasifik

Benteng dibangun dalam bentuk yang lebih sederhana dibanding dengan versi aslinya di negeri asal. Yang dipentingkan bukanlah kenyamanan, tetapi bagaimana dengan biaya sehemat mungkin dapat menguasai perdagangan rempah-rempah

Antara Spanyol dan Portugal
Rempah-rempah, terutama cengkeh dan pala, merupakan komoditi yang eksotik bagi bangsa Eropa, bukan karena khasiatnya saja, namun juga karena asal-usulnya yang misterius. Berbagai upaya dijalani untuk memutus monopoli pedagang Arab, India dan Cina, sekaligus menekan harga. Keberhasilan Vasco da Gama (1497-1499) mencapai India lewat Tanjung Harapan telah membuka jalur pelayaran orang-orang Eropa ke Asia. Tidak lama kemudian, Melaka diduduki Portugal (1511).

Setelah ekspedisi rahasia Portugal di awal abad XVI oleh Antonio d’Abreu dan Francisco Serrao ke Maluku, maka ekspedisi Ferdinand Magellan dari Spanyol (1522) dan Francis Drake (1579) dari Inggris akhirnya mulai menyingkap tabir misteri lokasi surga rempah-rempah di Maluku.

Pada abad XVI, Spanyol dan Portugal berlomba menetapkan pengaruh di Maluku. Perjanjian Tordesillas (1494): Spanyol menguasai wilayah barat dunia, Portugal wilayah timur. Semula batasnya adalah 1290 Garis Bujur Timur, artinya Maluku terbelah dua. Perjanjian Saragossa (1527) menggeser batas itu 170 ke arah timur. Portugal mendapat hak menguasai Maluku. Spanyol sempat memiliki pos di Tidore, 1542-1545, namun akhirnya lebih berkonsentrasi di Filipina. Hal inilah yang kemudian menjelaskan pengaruh Portugal di kawasan Maluku selama abad XVI. Portugal unggul di teknologi persenjataan dan armada laut untuk menjaga jalur perdagangan rempah-rempah di Maluku. Mereka juga membangun benteng-benteng. Namun penguasa lokal lambat-laun dapat menguasai teknologi itu. Hegemoni Portugal di akhir abad XVI mulai pudar. Wilayah penjagaan terlalu luas bagi kekuatan yang mulai kekurangan orang dan armada kapal. Terlebih lagi, muncul kekuatan lainnya yang ikut bersaing, yaitu Belanda dan Inggris.

Antara Belanda dan Inggris
Kemenangan Belanda atas Portugal di Banten, 1601, dan Ambon, 1605, menandai awal hegemoni Belanda atas jalur perdagangan rempah-rempah di Maluku. Bersamaan dengan itu, VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) dibentuk (1602) sebagai kongsi dagang sekaligus wakil kerajaan untuk memerintah, berperang atau berdamai di wilayah sebelah timur Tanjung Harapan. Niatan utama VOC adalah menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku untuk langsung dijual di Eropa. Benteng Victoria didirikan di Ambon (1605) sebagai pusat kendali. Ketika Gubernur Jendral J.P.Coen meluaskan ambisi VOC untuk menguasai perdagangan di Asia, pusat pemerintahan pindah ke Batavia (1619). Pada 31 Desember 1799 VOC resmi dinyatakan bangkrut, sementara Belanda telah dikuasai Perancis.

Tahun 1600 Inggris mendirikan EIC (English East India Company) untuk berlomba menguasai perdagangan di Asia. VOC menyatakan Maluku tertutup di tahun 1616. Inggris mampu bertahan di Pulau Run (1612-1621 & 1665-1667) dan Lontor (1612-1621). Perselisihan antara VOC dan EIC tidak dapat dihindari. Puncaknya, di tahun 1623, ketika orang-orang Inggris di Ambon tewas akibat melawan VOC. Di tahun 1684, Inggris telah kehilangan seluruh pos dan bentengnya di wilayah Nusantara. Namun tahun-tahun berikutnya, perhatian mereka mulai diarahkan ke pantai timur Sumatra.

Di tahun 1811 Inggris berhasil menguasai Nusantara, tidak berapa lama setelah Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) meninggalkan Batavia. Stamford Raffles menjadi Letnan Gubernur dan menguasai Nusantara sampai diserahkan kembali kepada Belanda tahun 1816 untuk Jawa, dan selebihnya tahun 1817.

Benteng Pertahanan
Abad XVI menjadi era Portugal, sementara abad XVII paruh pertama abad XIX menjadi era Belanda (VOC dan pemerintah kolonial Hindia Belanda) dengan sedikit pengaruh Inggris (EIC) di beberapa tempat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Di setiap tempat yang strategis, mereka membangun pos dan benteng untuk mengendalikan jalur perdagangan, sekaligus untuk pertahanan. Dalam skala besar, benteng melingkupi sebuah kota atau bagian dari kota inti.

Benteng dibangun dalam bentuk yang lebih sederhana dibanding dengan versi aslinya di negeri asal. Yang dipentingkan bukanlah kenyamanan, tetapi bagaimana dengan biaya sehemat mungkin dapat menguasai perdagangan rempah-rempah. Sesuai dengan perkembangannya, sebagian besar menggunakan bastion mata panah (arrowhead). Secara umum sistem pertahanan yang didirikan itu terdiri dari benteng utama, dilengkapi dengan benteng-benteng kecil (redoubt) di sekitar kawasan yang berfungsi sebagai pengawas/pengintai di lingkar luar. Perang Pasifik Di masa perang Pasifik, kawasan Papua dan Maluku secara geografis menjadi lokasi strategis pihak Jepang dan Sekutu untuk memastikan kemenangan di pihak masing-masing. Bagi Jepang, kawasan tersebut merupakan kunci pertahanan dari serangan Sekutu yang datang dari arah timur dan selatan. Sementara bagi Sekutu, penyerbuan ke pertahanan Jepang di Filipina hingga ke Tokyo sangat ditentukan pula oleh penguasaan kawasan itu.

Sistem perang modern tidak memerlukan lagi benteng-benteng sebagaimana digunakan oleh Belanda, Inggris dan Portugal di masa lalu. Jepang mendirikan pillbox yang disebar di sepanjang pantai sebagai garis pertahanan terluar. Pertahanan di pedalaman lebih mengandalkan gua-gua (alam dan buatan)—sangat ampuh untuk menahan laju armada Sekutu.

Kunjungi : www.bentengindonesia.org
2008 ® pusat dokumentasi arsitektur